CATATAN PENGABDIANKU DI KEBON CAU
CATATAN
PENGABDIANKU DI KEBON CAU
Ersal Imami
1.
Perjalanan
Baru Dimulai
Nama
saya Ersal Imami atau akrab disapa Ersal. Lahir di Bogor, 16 November 1997.
Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Tak terasa kini saya sudah melewati semester
6, dan kini saatnya saya melalui babak baru untuk mendapatkan pelajaran hidup
dari sebuah program yang disebut KKN. Apa sih itu KKN? Mahasiswa di kampus
negeri pasti tidak asing lagi dengan istilah ini. KKN adalah singkatan dari
Kuliah Kerja Nyata, yaitu program yang dicanangkan kampus sebagai bentuk dari
implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian. Dengan adanya program ini, diharapkan peran mahasiswa
sebagai agent of change bisa terwujud
dan bisa membantu desa-desa tertinggal untuk membangun desanya lebih baik lagi.
Adapun motivasi saya sendiri disini adalah belajar untuk memberdayakan desa,
karena kebetulan saya pun tinggal di daerah yang cukup tertinggal dan saya
ingin pembelajaran ini bisa saya terapkan di desa saya nantinya. Dan, seperti
inilah cerita saya bermula.
20 Juli 2018, hari pertama pembukaan KKN Agrapana dimulai. Memang terlihat sederhana dari sisi dekorasi, akan tetapi cukup meriah dikarenakan para warga yang berbondong-bondong datang ke rumah Pak Lurah untuk meramaikan acara tersebut. Saya pun sangat bangga pada hari itu karena telah dipercayakan menjadi MC. Awalnya saya sedikit ragu dan gugup, maklum demam panggung pasti akan menyerang siapa saja yang jadi pusat perhatian. Tapi, saya pun mencoba memberanikan diri dan melawan rasa ragu. Sampai akhirnya, acara pun berjalan lancar dan sukses dengan ditandai penyerahan almamater UIN Jakarta dari Dosen Pembimbing kepada Pak Lurah secara simbolis.
20 Juli 2018, hari pertama pembukaan KKN Agrapana dimulai. Memang terlihat sederhana dari sisi dekorasi, akan tetapi cukup meriah dikarenakan para warga yang berbondong-bondong datang ke rumah Pak Lurah untuk meramaikan acara tersebut. Saya pun sangat bangga pada hari itu karena telah dipercayakan menjadi MC. Awalnya saya sedikit ragu dan gugup, maklum demam panggung pasti akan menyerang siapa saja yang jadi pusat perhatian. Tapi, saya pun mencoba memberanikan diri dan melawan rasa ragu. Sampai akhirnya, acara pun berjalan lancar dan sukses dengan ditandai penyerahan almamater UIN Jakarta dari Dosen Pembimbing kepada Pak Lurah secara simbolis.
Di hari selanjutnya, seperti perencanaan awal kelompok kami yang ingin membentuk karang taruna di Desa Kebon Cau, kami pun mulai melakukan pendekatan kepada remaja Desa Kebon Cau untuk mempermudah pencapaian tujuan kami. Pada malam hari, saya beserta beberapa teman lelaki mulai hangout bersama pemuda Desa Kebon Cau. Kami berkenalan dengan beberapa pemuda di desa tersebut seperti Abi, Tomboy, dan Lana. Senda gurau dan canda tawa pun mengisi malam itu. Ditemani secangkir kopi dan beberapa makanan ringan, kami pun asik mengobrol dan bercerita tentang kehidupan di Desa Kebon Cau. Dari sanalah saya banyak mengetahui kehidupan di Desa Kebon Cau. Saya tahu bahwa ternyata Desa Kebon Cau cukup aktif dalam beberapa kegiatan olahraga seperti futsal dan bulutangkis.
Setelah melakukan pendekatan kepada remaja di hari sebelumnya, saya dan beberapa teman kini beralih dengan melakukan pendekatan terhadap anak-anak kecil. Tujuan kami adalah agar mempermudah sosialisasi program kerja kami, terutama program kerja yang berkaitan dengan anak. Disana kami mengajak anak-anak belajar bermain hadroh di tempat Ustadz Badri, tokoh agama di desa tersebut. Dipimpin langsung oleh anggota kelompok kami, yaitu Aziz, antusiasme anak-anak disana sangatlah terlihat. Setelah berlatih hadroh, sore harinya kami pun bermain bola dengan anak-anak kecil di Desa Kebon Cau. Senang sekali rasanya melihat antusiasme mereka, ditambah lagi sambutan mereka yang hangat yang membuat kami semakin akrab. Dari sanalah saya mulai mengetahui minat anak-anak disana dan dengan pengalaman tersebut kami pun semakin mengenal kondisi desa itu.
Hari keempat, kami pun mulai masuk ke acara-acara besar kami. Saya pribadi mencoba mempersiapkan program kerja fakultas saya, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Karena saya lahir dari fakultas tersebut, maka dari itu saya dan beberapa anggota KKN yang berasal dari Tarbiyah memilih seminar kependidikan sebagai program kerja kami. Tujuan kami mengangkat tema pendidikan dan mensosialisasikannya ke Desa Kebon Cau adalah untuk meningkatkan keinginan atau minat warga Kebon Cau agar menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Hal itu kami lakukan karena kami melihat kebanyakan warga disini tingkat pendidikannya masihlah rendah dan perlu ditingkatkan lagi.
Hari kelima, saya dan kelompok KKN saya melakukan rapat evaluasi. Hal itu kami lakukan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah kami lakukan saat menjalankan program kerja. Selain melakukan rapat evaluasi, saya pun juga melakukan rapat pemantapan seminar. Pada rapat tersebut, saya menjelaskan kepada teman-teman terkait jobdesk dari tiap divisi dan memberikan deadline agar seminar tersebut bisa terselenggara dengan baik tanpa ada kesalahan ataupun kekurangan. Selain membahas program besar, kami pun juga membahas program-program rutin seperti pengajian, kerja bakti, pengajaran anak-anak, dsb. Kami membahas semua program tersebut di rapat secara tuntas. Kami ingin program kerja kami bisa berjalan dengan lancar. Dan, di rapat itu pun kami mulai membuat perjanjian untuk bangun lebih awal untuk menjalankan proker di esok harinya.
Hari keenam, saya memulai pagi yang berbeda daripada biasanya. Saya bangun lebih awal, mandi lebih awal, dan makan lebih awal. Setelah melakukan aktivitas tersebut, saya melakukan banyak kegiatan mulai dari pagi sampe sore. Saya pergi ke sekolah dekat rumah Pak Lurah yaitu SMK Patriot Nusantara untuk mensosialisasikan bahwa saya dan kawan-kawan akan mengadakan Seminar Kependidikan disana. Setelah itu, saya membantu ibu-ibu PKK di Posyandu siang harinya. Di Posyandu, saya membantu membagikan makanan bayi dan menimbang balita. Selanjutnya, saya pergi ke balai desa. Di sana, saya mengikuti rapat yang diadakan bapak Lurah. Rapat tersebut dilakukan untuk mensosialisasaikan terkait bantuan dana warga miskin serta bedah rumah bagi warga desa yang rumahnya masih kurang layak untuk dihuni.
Hari selanjutnya adalah hari yang cukup berat tapi menyenangkan bagi saya. Saya mulai terbiasa untuk bangun pagi, mandi, dan melakukan kegiatan-kegiatan rutin kami. Salah satu dari kegiatan tersebut adalah mengajar di Taman Kanak-kanak (TK) Fajar Ilhami. Saya dan teman-teman sangat senang mengajar disana. Melihat semangat anak-anak yang belajar di pagi yang ceria. Kami memulai pelajaran dengan senam bersama. Ketika audio diputarkan, anak-anak pun mulai bergerak kesana-kemari. Senang rasanya melihat tawa mereka. Selanjutnya, setelah senam, kami pun membuat game sederhana yang kami namakan ‘aziz berkata’. Cara mainnya kita hanya boleh mengikuti pergerakan si instruktur ketika dia bilang ‘aziz berkata’. Ketika tidak ada ucapan ‘Aziz berkata’, maka tidak boleh ada gerakan. Terakhir, setelah bermain game, kami menutup hari dengan mewarnai bersama. Kami memberikan beberapa gambar kepada anak-anak yang pada akhirnya diwarnai oleh anak-anak tersebut.
Seperti itulah 7 hari pertamaku di Kebon Cau. Walaupun butuh adaptasi yang lama, akan tetapi saya sangat senang karena warga Kebon Cau bisa menerima kami dengan baik. Walaupun cukup berat rintangan yang menghadang, akan tetapi terasa ringan berkat bantuan warga disini. Jadi, inilah perjalanan awal KKN-ku, bagaimana dengan KKN-mu?
2.
Melewati
Rintangan Besar
Untuk mencapai sebuah jalan kesuksesan, kita semua tahu bahwa kita harus melewati rintangan besar yang menghadang. Mungkin seperti itulah penggambaran KKN-ku bersama teman-teman. Perbedaan karakter, pemikiran, dan sudut pandang terkadang menjadi penghambat dalam melaksanakan acara kami. Tetapi, hambatan bukanlah alasan untuk berhenti, justru dari sanalah kita belajar untuk memperbaiki. 30 hari bukanlah waktu yang singkat. Dalam kurun waktu itu saya pun mulai belajar memahami setiap karakter teman saya dan juga pemikirannya. Lalu, perlahan kami pun mulai saling memahami. Perbedaan pemikiran yang dulu kami anggap sebagai hambatan, sekarang malah menjadi kekuatan. Dengan banyaknya pemikiran yang berbeda justru membuat kelompok kami semakin matang dalam membuat konsep acara. Dan, pada akhirnya rintangan-rintangan besar pun bisa kami lewati. Acara-acara seminar yang sebelumnya mungkin saya dan teman-teman anggap sebagai rintangan besar, ternyata bisa kami lewati jika berjalan bersama. Dan, seperti inilah ceritanya.
Seminar Pengelolaan Sampah dan Industri Kreatif
29 Juli 2018, salah satu proker besar dan unggulan kami pun diselenggarakan. Acara seminar tersebut berjudul “Kebijakan Pengelolaan Sampah dan Industri Kreatif”. Dihadiri Pak Lurah dan beberapa warga, acara pun berjalan dengan lancar. Antusiasme warga pun cukup banyak terutama ibu-ibu PKK ketika di Seminar Ekonomi Kreatif. Hal itu terjadi karena kegiatan di acara tersebut melibatkan para ibu-ibu PKK dalam pembuatan bros dari kain-kain bekas jahit. Dari sana, ibu-ibu PKK desa Keb. Cau belajar bagaimana memanfaaatkan sampah menjadi industri kreatif.
Memang, secara kasat mata acara tersebut telihat bagus dan bisa dibilang sukses. Namun, jika kita putar ulang ke hari-hari sebelumnya bahkan ke detik sebelumnya, perjuangan menyelenggarakan acara itu tidaklah mudah. Butuh usaha keras dan kerjasama tim kami dalam mengadakan acara tersebut.
Pada awalnya, seminar “Kebijakan Pengelolaan Sampah dan Industri Kreatif” ini direncanakan menjadi dua rangkaian seminar yang terpisah dan dilaksanakan pada hari yang berbeda. Namun, melihat kondisi keuangan yang minim saat itu dan waktu kami di Kebon masihlah sangat lama, akhirnya kami pun memutuskan untuk menjadikan acara tersebut menjadi satu rangkaian acara.
Lalu, rapat-rapat yang kami lakukan untuk mempersiapkan acara tersebut pun bisa dibilang terkesan instan. Hanya sehari sebelum acara dimulai. Tapi alhamdulillah, acara kami pun bisa selesai diselenggarakan.
Namun, sekali lagi, human error dalam suatu acara pasti ada yang terjadi. Salah satunya di akhir acara kami, apa yang kami harapkan dari acara kami tidak terlaksanakan. Pada awalnya, kami membuat acara tersebut dengan tujuan agar warga tersadar untuk bisa membuang sampah pada tempatnya dan mengelola sampah dengan bijak. Namun, nyatanya di akhir acara sampah justru berserakan di lantai tempat acara digelar.
·
Seminar Internet Positif dan Fotografi
Seminar Internet Positif dan Fotografi
30 Juli 2018, acara besar kami pun berlanjut. Kali ini seminar yang berjudul “Internet Positif dan Fotografi”. Acara ini adalah gabungan dari dua seminar yaitu seminar tentang internet dan tentang fotografi. Untuk seminar Internet Positif diisi langsung oleh teman kami sendiri dari kelompok Agrapana 93 yang bernama Yusran Syuja sementara fotografi diisi oleh Ka Eva. Acara ini kami buat dengan tujuan agar anak-anak di Desa ini bisa menggunakan internet secara bijak. Sasaran atau target acara ini adalah kaum muda. Maka dari itu, kami memilih sekolah SMK Patriot Nusantara sebagai sasaran. Tujuannya agar anak-anak muda terutama pelajar di desa Keb. Cau bisa menggunakan internet dengan bijak.
Lalu mengapa kami memilih materi internet? Karena, kami melihat kecenderungan anak-anak di desa ini sebenarnya sudah bisa menggunakan internet. Akan tetapi, penggunaan internet ini hanya untuk bermain game seperti Mobile Legend. Memang cukup berat untuk mengatasi permasalahan seperti ini. Maka dari itu, kami mencoba membuat seminar tersebut dengan harapan bisa mengubah pola pikir mereka agar bisa menggunakan internet dengan bijak. Kami juga memberikan pengetahuan tentang literasi digital agar anak-anak atau kaum muda Kebon Cau bisa menggunakan internet untuk mengembangkan pengetahuan mereka.
Dan, alhamdulillah saat melaksanakan seminar tersebut di SMK Patriot Nusantara. Antusiasme para murid cukuplah banyak, sehingga acara tersebut bisa dikatakan cukup sukses.
Seminar Pendidikan
Lanjut ke seminar besar kami yang ketiga yaitu Seminar Pendidikan. Walaupun acara tersebut diadakan tanggal 2 Agustus 2018, akan tetapi kami sudah mempersiapkan dari tanggal 1 Agustus 2018.
1 Agustus 2018, di waktu ini kami sibuk melakukan persiapan untuk acara kami keesokan harinya yaitu Seminar Kependidikan. Saya dan kawan-kawan mengadakan rapat guna memantapkan persiapan. Dipimpin langsung oleh saya sendiri sebagai penanggung jawab acara seminar tersebut, rapat pun berjalan dengan khidmat. Setelah rapat selesai, kami bekerja berdasarkan job desc kami. Divisi acara mempersiapkan pengisi acara dan rundown, divisi peralatan mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan, divisi pubdekdok mendesain sertifikat untuk pengisi acara, divisi konsumsi mempersiapkan bahan makanan yang dibutuhkan, dan divisi humas mem foll-up pengisi acara. Setelah semua persiapan dirasa cukup, kami pun akhirnya memutuskan untuk istirahat guna menjaga stamina kita untuk keesokan harinya.
2 Agustus 2018, acara Seminar Pendidikan pun dimulai. Diisi langsung oleh saya sendiri sebagai pemateri, alhamdulillah acara berjalan cukup baik. Acara dilaksanakan sama seperti seminar sebelumnya yaitu di SMK Patriot Nusantara. Pada awalnya, acara tersebut direncanakan karena adanya kekhawatiran kami melihat kurangnya pendidikan di desa Keb. Cau. Kami melihat, kebanyakan warga Kebon Cau banyak yang tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Jangankan Perguruan Tinggi, SMA saja bahkan banyak yang tidak melanjutkan. Maka dari itu, melihat kondisi pendidikan yang seperti itu, kami pun akhirnya membuat Seminar Kependidikan. Dan dengan acara tersebut, kami berharap bisa memberikan kesadaran kepada warga desa Keb. Cau akan pentingnya pendidikan, terutama Perguruan Tinggi.
3.
Rutinitas
Tanpa Batas
Kali ini saya akan membahas rutinitas atau program rutin yang saya lakukan selama sebulan di Desa Kebon Cau, mulai dari mengajar ngaji, mengajar TK, kerja bakti, sensus penduduk, dan nonton bareng.
Mengajar ngaji
Cerita ini dimulai pada 31 Juli 2018. Pada awalnya saya tidak pernah ditugaskan untuk mengajar ngaji anak-anak Kebon Cau. Baru pada tanggal tersebut saya dan teman saya (Aziz) ditugaskan mengajar untuk melanjutkan kegiatan rutin kamiyang sebelumnya sudah dilaksanakan oleh Mara dan Nesen yang juga anggota KKN kami. Dipandu oleh Ibu Sobari tokoh muslimah disana, kami pun memberikan pengajaran kepada anak-anak langsung di rumah ibu Sobari. Senang sekali melihat antusiasme anak-anak yang mengaji. Walaupun kita mengajar banyak anak yaitu sekitar 120 orang tapi saya cukup senang karena antusiasme mereka. Di pengajian tersebut saya pun memberikan sedikit cerita dimana cerita tersebut memiliki nilai-nilai moral dan sosial yang baik untuk anak-anak. Menurut saya, menanamkan nilai-nilai moral dan sosial itu merupakan bagian penting karena hal-hal baik memang harus didoktrin sedari kecil.
Mengajar TK
Untuk program rutin ini, saya hanya mengajar pada tanggal 26 Juli dan 3 Agustus 2018. Acara rutin yang kami lakukan biasanya adalah senam bersama. Ketika audio diputarkan, anak-anak pun mulai bergerak kesana-kemari. Senang rasanya melihat tawa mereka. Selanjutnya, setelah senam, kami pun membuat game sederhana yang kami namakan ‘aziz berkata’. Cara mainnya kita hanya boleh mengikuti pergerakan si instruktur ketika dia bilang ‘aziz berkata’. Ketika tidak ada ucapan ‘Aziz berkata’, maka tidak boleh ada gerakan. Terakhir, setelah bermain game, kami menutup hari dengan mewarnai bersama. Kami memberikan beberapa gambar kepada anak-anak yang pada akhirnya diwarnai oleh anak-anak tersebut.
Kerja Bakti
Pada awalnya kami merencanakan kerja bakti ini menjadi acara rutin. Namun, nyatanya acara ini hanya bisa dilaksanakan pada tanggal 5 Agustus 2018.Dibantu beberapa warga, kami pun melakukan kerja bakti di sekitar rumah Pak Lurah. Hal itu dilakukan juga, guna mempersiapkan 17 Agustus nanti. Karena rencananya, daerah sekitar rumah Pak Lurah akan dijadikan sebagai tempat acara Perayaan 17 Agustus. Kami pun membersihkan rumput-rumput dan ilalang disana. Ditemani sebilah golok dan beberapa pacul, kami pun membabat habis semua kotoran dan sampah yang menghalangi. Para warga pun cukup antusias membantu. Setelah itu, kegiatan tersebut semakin membahagiakan karena ditutup dengan secangkir kopi dan beberapa gorengan yang membuat diri kita tak tahan dan tergoda untuk melahapnya.
Sensus penduduk
7 Agustus 2018, kegiatan baru ternyata kembali hadir pada hari ini. Hari ini kami diamanahkan dan diminta tolong pihak desa untuk melakukan sensus dan mendata warga miskin di daerah Kebon Cau. Hal itu kami lakukan guna membantu program Pemda Kab. Tangerang yaitu MPM (Mekanisme Pemutakhiran Mandiri). MPM adalah program terakhir Pemda Kab. Tangerang yang bertujuan untuk memberikan bantuan kepada warga miskin di daerah Kab Tangerang. Biasanya, bantuan tersebut berupa sembako dan dana pendidikan bagi anak usia sekolah. Kami melakukan sensus dan pendataan ditemani oleh Ibu RT. 20. Kebetulan kita memang mendapat bagian untuk mendata daerah tersebut. Pada hari ini pun kita berhasil mendata sekitar 50 lebih warga RT. 020.
Nonton bareng
28 Juli 2018, hari ini berbeda dengan hari sebelumnya. Mungkin dikarenakan lelah di hari sebelumnya, kami memulai program hanya di sore hari. Program yang kami adakan pada sore itu adalah nonton bareng bersama anak-anak. Mungkin terdengar sederhana, namun kami mencoba menanamkan berbagai nilai mulai dari moral, sosial, dsb. di acara itu. Kami membuat acara tersebut sebagai acara rutin. Di hari ini pun kami memasukkan pelajaran biologi dalam acara nonton bareng ini. Bersama anak-anak kami menonton film tentang bagian-bagian atau organ-organ dalam pernapasan. Rangkaian acara tersebut dimulai dari menonton film bareng. Kemudian dilanjut dengan pertanyaan-pertanyaan yang meningkatkan daya kritis mereka. Setelah itu, barulah ditutup dengan kesimpulan yang berisi pembelajaran dari acara nonton bareng tersebut.
4 Agustus 2018, kembali ke acara rutin yaitu Nonton Bareng. Kali ini tema yang kita angkat yaitu nilai moral dari cerita rakyat dan nilai keagamaan. Film yang kami tonton bersama anak-anak waktu itu adalah “Pada Zaman Dahulu”. “Pada Zaman Dahulu” adalah film kartun serial anak yang berisi cerita-cerita rakyat seperti si Kancil, si Buaya, dll. Judul film yang waktu itu kita tonton adalah “Monyet yang Rakus”. Di akhir acara kembali kami menerangkan tentang nilai moral dan sosial dari film tersebut. Penjelasan tersebut kebetulan dilakukan oleh saya sendiri. Saya menjelaskan bahwa dari film tersebut kita bisa belajar agar tidak rakus dan keras kepala seperti sang monyet. Karena sebagai manusia, baiknya kita juga mendengarkan nasihat orang lain. Karena Rasulullah pun mengajarkan kita untuk mengargai pendapat orang lain walaupun dari orang yang kita benci sekalipun.
4.
Kenang-kenangan
Untuk Kebon Cau
6 Agustus 2018, ada yang berbeda dibanding hari-hari sebelumnya. Hari ini adalah hari dimana 3000 bibit pohon yang kita rencanakan akan ditanami di Desa Kebon Cau, diambil di tempatnya yaitu IPB. Pagi-pagi sekali, kami bergegas melaju, mengambil mobil pick up guna menjemput 3000 bibit pohon di IPB. Setelah beberapa teman kesana, ternyata yang bisa diambil hanyalah 1500 bibit. Akhirnya, kami pun mengambil 1500 bibit tersebut. Lalu, setelah 1500 bibit itu sampai di kediaman Pak Lurah pada malam hari, kami pun bergegas mengangkutnya dan menatanya. Memang terasa melelahkan, menyusun 1500 bibit dalam sekali angkut itu memang tidak mudah. Tapi, dengan semangat dan tekad kami, 1500 bibit itu terasa mudah dan cepat sekali diselesaikan. Akhirnya, pada malam itu, 1500 bibit itu pun berhasil kita angkut.
Lanjut pada tanggal 12 Agustus 2018 tepatnya di hari Minggu, akhirnya kami pun mengadakan acara Launching untuk 1500 bibit pohon yang kita ambil. Kami membuat Lauching tersebut agar diketahui semua warga Kebon Cau. Kami merasa sangat bangga dengan acara kami ini karena acara ini merupakan acara unggulan kami. Turut dihadiri Pak Camat dan pihak Kepolisian Telukanaga, acara tersebut disambut dengan meriah oleh antusiasme warga yang berbondong-bondong datang ke acara kami. Senang sekali rasanya bisa menyelenggarakan acara ini.
Dengan 1500 bibit pohon ini, saya dan teman-teman berharap Desa Kebon Cau akan lebih asri, lebih sejuk, dan lebih hijau nanti. Dengan 1500 bibit pohon ini, sekaligus akan menjadi tanda bahwa pengharapan kami akan terus tumbuh untuk desa ini. Dan, semoga 1500 bibit pohon ini, bisa menjadi kenang-kenangan terindah dari kami untuk desa tercinta ini.
Komentar
Posting Komentar