Dracula in the Real World

Dracula in the Real World


Apa yang kalian bayangkan ketika mendengar kata Dracula? Mungkin kalian akan membayangkan sesosok makhluk seram berjubah hitam yang sangat haus darah. Hmm... menyeramkan bukan. Tapi tahukah kalian, Dracula sebenarnya itu adalah manusia loh. Dia pernah hidup di masa kejayaan Islam. Siapakah dia sebenarnya? Mari kita simak ceritanya berikut ini.

Nama aslinya adalah Vlad Dracula III. Dracula sendiri diambil dari bahasa Latin yaitu Draculae. Dracul berarti Naga dan tambahan ae yang berarti anak. Jadi, Dracula itu berarti anak Naga. Nama itu didapatkannya karena ayahnya adalah seorang Rumania yang bergabung dalam kelompok Ordo Naga. Ayahnya sendiri dijuluki dengan sebutan Vlad Dracul.

Di masa kecilnya, Dracula hanya mengenal sosok ibu. Ayahnya adalah seorang panglima perang yang selalu terjun di medan tempur. Praktis Dracula lebih sering ketemu ibunya dibanding ayahnya. Walaupun ibunya telah memberikan kasih sayang dan pendidikan yang cukup untuk Dracula dan adiknya, Radu. Namun tetap saja, suasana mencekam penuh pembantaian di daerah tempat tinggalnya meninggalkan kenangan buruk untuk mereka.

Pemenggalan, pembantaian, eksekusi mati, dan peperangan menjadi tontonan biasa bagi Dracula dan adiknya. Tempat dimana mereka tinggal pada saat itu (Wallachia), memang sedang diekspansi oleh Hungaria. Oleh karena itu, pada usia 11 tahun Dracula dan adiknya pun dipindahkan oleh ayahnya ke Turki. Karena pada saat itu hanya Kerajaan Turki Utsmani lah yang membantu Wallachia terbebas dari cengkraman Janos Hunyadi yang memimpin penjajahan Hungaria.

Selama di Turki, Dracula dan adiknya mulai masuk Islam dan belajar banyak tentang bela diri, teknik berperang, dan ilmu lainnya. Mereka disambut hangat oleh Raja waktu itu, Sultan Murad II yaitu ayah dari Muhammad Al Fatih. Sampai akhirnya, ketika mereka beranjak dewasa dan Muhammad Al Fatih telah menjadi pemimpin di kekhalifahan Turki Utsmani. Dracula diberi mandat untuk memimpin daerah kelahirannya, Wallachia. 

Akan tetapi, bukannya menggunakan kekuasaan dengan bijak, Dracula malah menggunakan kekuasaannya untuk membantai seluruh pasukan Turki yang dibawanya. Dracula berkhianat. Dia murtad dari Islam dan bersekongkol dengan pembunuh ayahnya sendiri, Jonas Hunyadi. Dia mengarak seluruh pasukan Turki dengan telanjang bulat. Setelah itu mereka dieksekusi dengan cara disula, yakni ditusuk duburnya dengan balok runcing sebesar lengan sampai menembus kerongkongan.

Tak habis sampai disitu, Dracula merasa masih kurang puas dengan darah-darah yang didapatkannya. Dia mulai melakukan aksi sadisnya kepada seluruh rakyat, tuan tanah dan para bangsawan. Dia juga mencari dalang dari pembunuhan ayahnya saat perang di Wallachia dan mulai menyulanya satu persatu. Termasuk Jonas Hunyadi yang pada akhinya menjadi korbannya. Dan jadilah, Wallachia itu sebagai Hutan Mayat Tersula.

Pada akhirnya Dracula pun kalah dan mati di tangan Sultan Muhammad Al-Fatih. Dan dari sanalah kita mulai mengenal sosok Dracula yang haus darah. Karena memang dia begitu terkenal dengan kebengisan dan kekejamannya. Walaupun dia memang ada pada zaman kejayaan Islam, akan tetapi peran dia pada saat itu adalah sebagai musuh umat Islam. Jadi, jangan seperti Dracula yang haus darah yaa hehe.


Semoga bermanfaat.


Referensi

https://m.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2015/02/18/39145/dracula-kisah-nyata-pembantai-umat-islam-1.html
https://m.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2015/02/18/39149/dracula-kisah-nyata-pembantai-umat-islam-2.html
http://felixsiauw.com/home/muhammad-al-fatih-sang-ghazi-dan-vlad-iii-dracula-sang-pemancang/
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Vlad_


Komentar

Postingan Populer