Cerita Bersama Bapak
Cerita Bersama Bapak
Ceritanya lagi ngobrol sama
bapak. Mencoba mengungkapkan ide dengan meluap-luap. Biasa, kawula muda,
menggebu-gebu dan ambisius dalam mencapai suatu hal. Berimajinasi bagaikan
seorang pahlawan yang ingin menggilas habis semua kejahatan di dunia.
Ya, aku berbicara kepada bapak.
Seandainya aku memilki kekuasaan di dunia ini, ingin rasanya kulenyapkan
seluruh kejahatan. Korupsi yang membuat rakyat tercekik, penindasan yang
membuat banyak orang menjerit, pembodohan oleh kaum-kaum elite, dan sebagainya.
Akan tetapi, apa yang menjadi
jawaban bapak bukanlah suatu hal yang ingin aku dengar. Ya, sebuah penolakan. Jawaban
yang membuat dahi mengernyit. Jawaban yang membuat hati berontak tidak terima. Ya,
kata ‘tidak
bisa’ muncul dari mulut
bapak. Seketika aku diam dan menahan kesal.
Lalu, otakku mulai berpikir
keras. Menimbulkan banyak pertanyaan di kepala.
“Bagaimana mungkin tidak bisa? Mengapa tidak bisa? Apa sih yang salah? Bukankah
itu semua jalan kebenaran?”
Pertanyaan-pertanyaan itu hanya
berputar di kepalaku saja. Belum sempat terlontar apa yang menjadi pertanyaan,
bapak melanjutkan pembicaraannya. Dia berkata,
“baik dan buruk itu dari dulu sudah ada, bahkan sejak zaman Nabi Adam dan
akan terus ada sampai hari kiamat. Itu sebuah keniscayaan, kamu tidak bisa
menghilangkannya. Tapi, kamu bisa memperjuangkan kebenaran itu semampu kamu. Berusaha
dengan jalan kamu sendiri. Setidaknya, bisa jadi penyeimbang. Karena hidup itu
adalah keseimbangan. Jadi, bijak-bijaklah menjalani hidup.”
Aku hanya terdiam, dan mulai
merenung. Merasa tertampar oleh kata-kata. Lanjut bapak berkata,
“bahkan Rasulullah saja walaupun dia dijahati banyak orang kafir pada masa
itu, dia tidak berniat melenyapkan. Justru, dia mengubah keburukan mereka dengan
akhlaknya. Memberi contoh bagaimana memperlakukan orang-orang jahat dengan cara
yang berbeda. Karena beliau tahu dunia memang sudah diciptakan dengan adanya
orang jahat dan orang baik. Betapa bijaknya beliau menyikapi hidup."
Akhirnya, aku hanya bisa
tersenyum dan merasakan pandangan yang berbeda. Merasa mulai menerima. Terkadang,
mendengar menjadi cara yang efektif untuk memahami suatu hal.
Komentar
Posting Komentar